Perusahaan konstruksi di Indonesia mulai memprioritaskan konsep green building dan sustainability dalam pelaksanaan proyek pembangunan sepanjang tahun 2026. Tren tersebut terlihat dari meningkatnya penggunaan material ramah lingkungan, sistem hemat energi, serta teknologi bangunan berkelanjutan pada proyek komersial maupun kawasan industri.
Sejumlah pengembang dan kontraktor kini mulai menerapkan standar pembangunan yang berfokus pada efisiensi energi serta pengurangan dampak lingkungan. Penggunaan pencahayaan hemat listrik, sistem pengolahan air, ventilasi alami, hingga panel surya mulai menjadi bagian dari konsep pembangunan modern yang semakin banyak diterapkan di berbagai proyek.
Pelaku industri menilai bahwa kesadaran terhadap pembangunan berkelanjutan terus meningkat seiring tuntutan pasar serta kebutuhan efisiensi operasional bangunan dalam jangka panjang. Tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika dan fungsi, pembangunan kini juga mulai mengedepankan keberlanjutan lingkungan.
Menurut salah satu pelaksana proyek konstruksi, permintaan terhadap desain bangunan hemat energi mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
“Sekarang banyak klien mulai meminta desain bangunan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Jadi konsep green building sudah mulai menjadi kebutuhan proyek, bukan hanya tambahan,” ujar Hendro Surtaji, penanggung jawab konstruksi di Papua.
Selain penggunaan material ramah lingkungan, sejumlah proyek juga mulai menerapkan pengelolaan limbah konstruksi yang lebih terukur. Metode pembangunan modular dan prefabrikasi semakin banyak digunakan untuk mengurangi sisa material di lapangan sekaligus mempercepat proses pengerjaan proyek.
Di sektor gedung perkantoran dan fasilitas publik, penerapan sistem Building Management System (BMS) juga mulai meningkat guna membantu pengawasan penggunaan listrik, pendingin ruangan, hingga konsumsi air secara lebih efisien. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu menekan biaya operasional bangunan dalam jangka panjang.
Pemerintah turut mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan melalui berbagai regulasi terkait efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon di sektor bangunan. Langkah tersebut dipandang penting untuk mendukung target pembangunan rendah emisi sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan di Indonesia.
Meski biaya awal pembangunan green building cenderung lebih tinggi dibanding bangunan konvensional, banyak perusahaan mulai melihat konsep ini sebagai investasi jangka panjang karena dinilai mampu menekan biaya operasional, konsumsi energi, serta perawatan gedung di masa mendatang.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan dan kebutuhan efisiensi energi, konsep green building diperkirakan akan terus berkembang dan menjadi salah satu standar utama dalam industri konstruksi Indonesia pada tahun-tahun mendatang.